banner 728x250

Warga Matim Diaspora  Isyaratkan Ada  Praktek “Ijon”   Suara

Pijar NTT
banner 120x600

Kupang,  Pijar NTT

Perilaku  Calon Legislatif (Caleg) yang tidak berkualitas  yakni menggelontorkan sejumlah uang untuk “ijon ” suara pemilih.  Pejuangannya nanti Jika terpilih hanya untuk kepentingan dirinya demi mengembalikan modal yang telah dikeluarkan .

Warga diaspora yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara  memiliki perhatian terhadap kemajuan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur.   Kemajuan pembangunan Kabupaten Manggarai Timur  akan menjadi harapan hampa  bila perilaku para calon legislatif menghalalkan cara untuk menggapai kemenangan. Calon  wakil rakyat seperti ini,  hanya akan berbicara memperjuangkan kepentingannya sendiri   bila telah terpilih  menjadi anggota dewan.

Kornelis Jangkar warga Manggarai Timur yang saat ini bekerja di Tarakan mengharapkan agar para Caleg menunjukkan kualitas melalui gagasannya untuk   kemajuan pembangunan Manggarai Timur.  Calon anggota legsilatif mengandalkan uang agar lolos pada pemilu legislaitif dan Presiden pada 14 Pebruari 2024 adalah calon yang tidak memiliki gagasan untuk diperjuangkan.

Kornelis Jangkar ( pakai baju hitam) warga Matim yang bekerja di Tarakan sedang diwawancara oleh PIJARNTT

“Kalau ada caleg yang bagi uang jangan diplih karena dia tidak memiliki kemampuan berpikir untuk pembangunan Manggarai Timur ,” ujar Kornelis.

Dia mengaku, mendapatkan informasi dari kampungnya bahwa  ada calon legislatif dari partai tertentu yang membayar pemilih pada setiap TPS.  Setiap TPS katanya dia membayar 250.000 untuk 5 orang pemilih.

“Caleg model begini jangan harap dia berbicara untuk kepentingan rakyat saat menjadi dewan,” tandas Kornelis yang berasal dari Leong ini.

Sementara itu, Hendra Jasmin yang berdomisili di Kota Kupang mengaku  praktek “ijon” suara yang dilakukan oleh para calon legislatif sudah membudaya dalam masyarakat  Manggarai Timur khususnya.  Apalagi lanjut   Hendra pemilihan umum tahun 2024 bertepatan dengan  musim paceklik.

“Ada prinsip saling menguntungkan diantara caleg yang menawarkan uang dan keadaan masyarakat yang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Hendra sambil menambahkan pragmatisme telah berkembang pesat dalam pemikiran masyarakat saat hajatan demokrasi .

Hajatan demokrasi  menurut Hendra dianggap sebagai  kesempatan mendapatkan  uang dari calon legislatif   walaupun melanggar hukum dan etika sosial. Perilaku para calon legislatif     yang membagi uang untuk kemenangan ibarat virus yang telah menular dan berdampak buruk terhadap keutuhan keluarga .

Hendra  yang dihubungi via telp seluler menilai praktek politik uang bukan menjadi pijakan penilaian  soal kualitas para calon legislatif tetapi memanfaatkan pragmatisme yang berkembang dalam  perilaku   masyarakat . Dia menduga kekhawatiran saat ini juga melanda relung hati   calon legsilatif yang  sedang menjabat. Kehilangan kedudukan  menjerumus calon incumbent untuk menggelontorkan uang demi meraup suara .

Hendra mengharapkan peran Panwaslu dalam menindak   pelanggaran yang dilakukan oleh para calon legislatif termasuk politik uang.  Panwaslu harus menegakan aturan dan obyektif dalam menindak setiap pelanggaran menjelang Pemliu 2024.

Menanggapi  harapan warga Matim Diaspora, Calon Legislatif   dari Dapil Lambaleda Selatan dan Lamba Leda Timur, Dominikus  Darus SH, menyatakan apresiasinya terhadap warga Matim Diaspora yang mengharapkan calon  legislatif berkualitas   untuk kemajuan pembangunan Manggarai Timur.  Menurutnya, harapan   warga Matim diaspora merupakan bentuk dukungan moral terhadap calon legislatif yang sedang bertarung saat ini merebut hati pemilih.

Domi Darus, SH ( bertopi motif ) ditengah warga masyarakat saat sosialisasi diri

Tentang politik uang , Dia mengatakan   uang itu perlu dalam berpolitik tetapi bukan untuk membeli suara pemilih.  Jika uang digunakan untuk membeli suara pemilih maka moral calon tersebut sangat rendah karena dia menilai manusia dengan hitungan rupiah.  Kendati demikian dalam persaingan yang sangat ketat saat ini godaan bagi para caleg adalah mengambil jalan pintas dengan membayar tiap suara.  Jika terperosok dalam godaan ini maka  berdampak buruk bagi integritas moral baik caleg maupun pemilih.

“Kemajuan suatu daerah ditentukan oleh dinamika komunikasi yang setara   antara legislatif dan eksekutif, tapi jika untuk   memperoleh kedudukan dengan menghalalkan segala cara maka harapan untuk  kemajuan hanya sebuah ilusi,” ujar Domi yang berprofesi sebagai pengacara ini.  *Pijar NTT (Oswaldus/ Philipus)

 

 

Response (1)

  1. Saya setuju dengan berita ini,sekarang sangat sulit untuk mencari caleg potensial yang mempunyai kapasitas yang baik,dan masyarakat selalu terobsesi pada musim politik untuk memilih caleg yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *